YOGYAKARTA -  Seni rupa tidak hanya menjadi media untuk menampilkan keindahan visual, tetapi juga sarana menyampaikan pemikiran dan bertukar gagasan. Hal tersebut tercermin dalam penyelenggaraan Nandur Srawung #13 di Taman Budaya Yogyakarta yang melibatkan sekitar 100 seniman dari berbagai latar belakang.

Pameran ini menghadirkan beragam karya yang memperlihatkan cara seniman merespons lingkungan, pengalaman, dan persoalan di sekitarnya. Melalui pendekatan artistik yang beragam, pengunjung diajak melihat seni sebagai ruang komunikasi yang dapat membuka perspektif baru.

Nandur Srawung #13 juga menjadi bagian dari program kuratorial tiga tahunan bertajuk Akademi. Program tersebut dirancang untuk mendukung perkembangan praktik seni sekaligus memperluas wawasan dan jaringan bagi seniman muda Indonesia.

Program Akademi berlangsung dalam tiga tahapan. Tahun 2026 mengangkat Lanskap, kemudian dilanjutkan dengan Lab pada 2027 dan Lintasan pada 2028. Ketiga tahapan ini menjadi rangkaian untuk mengeksplorasi praktik seni rupa melalui berbagai pendekatan dan sudut pandang.

Selain pameran, penyelenggara menghadirkan kegiatan pendamping berupa kelas penulisan seni, diskusi, kuliah umum, dan wicara seniman. Berbagai kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memahami proses kreatif yang sering kali tidak terlihat ketika hanya mengamati hasil akhir sebuah karya.

Keterlibatan berbagai pihak menjadikan pameran ini tidak sekadar tempat memajang karya, tetapi juga ruang untuk membangun hubungan dan bertukar pengetahuan. Interaksi antara seniman dan pengunjung dapat membantu memperluas apresiasi terhadap perkembangan seni rupa Indonesia.

Melalui kegiatan ini, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenal keberagaman karya sekaligus melihat bagaimana seni dapat menjadi ruang pertemuan gagasan lintas generasi.

Penulis Artikel: Kirani Saragih