BANTUL – Sate klatak merupakan salah satu kuliner tradisional khas Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hidangan berbahan dasar daging kambing ini memiliki keunikan yang membedakannya dari sate pada umumnya, yaitu penggunaan jeruji besi sebagai tusuk sate. Kuliner ini berkembang di kawasan Jejeran, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Bantul, dan menjadi salah satu makanan yang dikenal dalam wisata kuliner Yogyakarta.

Keunikan sate klatak tidak hanya terletak pada tusuknya, tetapi juga pada penggunaan bumbu yang relatif sederhana. Daging kambing dipotong dalam ukuran cukup besar, kemudian diberi garam dan dibakar di atas bara api. Cara pengolahan tersebut membuat cita rasa daging tetap menonjol. Penggunaan jeruji besi juga membantu menghantarkan panas ke bagian dalam daging selama proses pembakaran.

Nama sate klatak memiliki beberapa versi asal-usul. Salah satunya dikaitkan dengan bunyi klatak-klatak yang terdengar ketika daging dibakar. Sate ini umumnya disajikan bersama nasi putih dan kuah gulai sebagai pelengkap. Perpaduan daging bakar dengan kuah berbumbu memberikan cita rasa gurih yang menjadi ciri khas hidangan tersebut.

Keberadaan sate klatak turut memperkaya keragaman kuliner tradisional di Bantul. Hidangan yang awalnya berkembang di kawasan Jejeran ini kemudian dikenal lebih luas oleh masyarakat dan wisatawan. Pada 2019, Sate Klathak Jejeran ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa sate klatak tidak hanya menjadi makanan khas daerah, tetapi juga bagian dari warisan kuliner yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Penulia Artikel: Purnasari Nuraini.