YOGYAKARTA - Ratusan mahasiswa di Yogyakarta menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD DIY, Rabu Sore. Dalam aksi memperingati hari sumpah pemuda ini, mahasiswa melontarkan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, serta mendesak penanganan kebakaran hutan dan lahan secara serius.
Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menggelar aksi di area depan gerbang gedung DPRD DIY, Jalan Malioboro, Yogyakarta, Rabu Sore.
Dalam aksi memperingati hari sumpah pemuda ini, massa membentangkan spanduk dan menyampaikan berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah. salah satunya terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, yang dinilai belum tuntas.
Mahasiswa juga mengkritisi program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta koperasi desa merah putih, yang dinilai membutuhkan evaluasi dalam penggunaan anggaran negara. Mereka juga menyoroti penggunaan dana pendidikan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Aksi ini turut dihadiri Guru Besar Hukum Kelembagaan Universitas Gadjah Mada, Profesor Zainal Arifin Mochtar, atau Prof Uceng. Dalam orasinya, Ia mengajak generasi muda menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda, dengan memperjuangkan keadilan dan demokrasi.
Prof Uceng menilai, gerakan mahasiswa masih memiliki peran penting sebagai pengawas jalannya pemerintahan. Ia juga mengingatkan agar pemerintah terbuka terhadap kritik, dan tidak hanya mendengarkan suara yang sejalan dengan kepentingan penguasa.
“Tidak menyelesaikan masalah, tapi kemudian melemparkan masalah itu kepada para pengkritik. Nah, saya kira hari ini adalah hari Sumpah Pemuda. 98 tahun yang lalu, teman-teman mahasiswa, teman-teman anak muda, bersumpah atas nama nasionalisme untuk mempersatukan Republik, untuk melawan penjajahan. Saya kira hari yang sama, 98 tahun kemudian, menjadi wajar kalau anak-anak muda melakukan ikrar yang sama dengan barangkali penekanan yang berbeda. Kenapa, Karena penjajahannya berbeda” Ujar PROF. Zainal Arifin Mochtar selaku Akademisi.
Sementara Itu, massa aksi menegaskan, peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Mahasiswa mendorong pemerintah lebih serius menyelesaikan persoalan rakyat, termasuk penanganan karhutla dan evaluasi kebijakan anggaran.
Reporter: Agung, RBTV
Penyunting: Kirani Saragih

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.