YOGYAKARTA - Cooling spray kerap menjadi andalan pelari ketika mengalami kram otot saat berolahraga. Namun, semprotan dingin tersebut ternyata belum terbukti efektif menghentikan kontraksi otot. Penanganan awal justru perlu dilakukan dengan menghentikan aktivitas sementara dan meregangkan otot secara perlahan.


Kram otot yang muncul saat berolahraga atau exercise-associated muscle cramps (EAMC) menjadi salah satu masalah yang sering dialami pelari, terutama ketika mengikuti perlombaan. Kondisi ini biasanya ditandai dengan otot yang menegang dan terasa nyeri sehingga mengganggu aktivitas.


Praktisi kebugaran, dr. Maria Lestari, menjelaskan bahwa belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan cooling spray mampu menghentikan kontraksi otot saat kram. Karena itu, pelari disarankan tidak hanya mengandalkan sensasi dingin dari semprotan tersebut.


Langkah awal yang dapat dilakukan adalah menghentikan aktivitas sejenak, kemudian melakukan peregangan statis secara perlahan pada bagian otot yang mengalami kram. Kondisi pelari juga perlu dievaluasi sebelum memutuskan untuk kembali beraktivitas.


Penggunaan semprotan antiinflamasi juga perlu dibedakan dari cooling spray. Produk yang mengandung obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID dapat membantu meredakan nyeri pada kondisi muskuloskeletal tertentu, seperti keseleo atau cedera otot ringan. Namun, manfaat tersebut tidak berarti mampu menghentikan kram otot.


Pelari juga perlu menghindari penggunaan spray hanya untuk menutupi rasa sakit agar tetap bisa melanjutkan perlombaan. Memaksakan aktivitas ketika mengalami nyeri berisiko membuat kondisi cedera tidak teridentifikasi dengan baik.


PENULIS ARTIKEL: DYNA MULIA SAFITRI